
Pastur Rochus Chang Peng Tu, Pr.
Pada tanggal 22 Mei 1947 seorang Imam Jesuit Simon Beekman, S.J. merayakan pesta perak imamatnya. Saat merayakan pesta itu timbul gagasan untuk memperluas misi di paroki barunya Kebon Dalem yang berlindung kepada Santo Fransiskus Xaverius, pelindung Misi.
Paroki Kebon Dalem yang terletak di daerah pecinan mempunyai umat sebagian besar Tionghoa. Pada waktu itu masih banyak golongan Tionghoa yang belum terjamah karya misi. Mereka merupakan pendatang baru dari RRC yang masih menggunakan bahasa Mandarin.
Pastor Beekman, S.J. mulai mempelajari bahasa Mandarin dengan tekun, beliau mencoba untuk berkotbah dalam bahasa Mandarin. Tetapi tak seorangpun memahami apa yang diucapkannya. Beliau tak putus asa. Beliau mencoba mencari cara lain untuk karya misinya itu melalui jalur pendidikan. Beliau mempercayakan karya misinya tahap kedua ini dibawah perlindungan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus.
Demikianlah pada tanggal 2 Mei 1950 Pastor Beekman, S.J. mendirikan YU TE KINDERGARTEN.
Taman Kanak-kanak YU TE dengan bahasa pengantar Mandarin. Kelas yang dipakai adalah salah satu gedung di komplek Kebon Dalem Gang Pinggir. Sekarang gedung ini sudah dibongkar dan dibangunan gedung baru. Murid angkatan pertama hanya berjumlah 25 anak. Namun YU TE yang berarti tunas muda kini sudah tidak dikenal lagi. Eksistensi YU TE KINDERGARDEN sekarang menjadi TK Theresiana I yang berdomisili di Kampung Kali.
Mgr. Willekens, S.J. dari Jakarta mendapat tawaran dua orang imam muda Tionghoa yang baru saja ditakbiskan di Seminari Tinggi Aberdeen Hongkong. Tawaran tersebut diteruskan kepada Mgr. Soegijopranoto, S.J. dari Semarang yang selanjutnya meneruskan tawaran ini kepada Pastor Beekman, S.J. Betapa gembiranya hati Pastor Beekman, S.J. Imannya pada kasih setia Allah melalui Santa Theresia tidaklah sia-sia. Surga mengirim penuai di ladang barunya.
Pada tanggal 25 Maret 1952 tibalah di kota Semarang dua orang misionaris muda Tionghoa yaitu : Pastor Rochus Chang Peng Tu, Pr. Dan Pastor Joseph Ting Yen, Pr. Sekolah YU TE diserahkan kepada kedua imam muda itu untuk dikelola dan dikembangkan.
Pada saat penyerahan, sekolah baru mempunyai dua kelas TK dan satu kelas SD, sedang gedung sekolah belum dimiliki.
Sebagai ruang belajar sekolah menumpang di gedung Xaverius lama (sekarang menjadi apotik Kebon Dalem dan kantor yayasan penyelenggara Illahi serta sebuah garasi di Kebon Dalem). Peralatan sekolah masih meminjam dari susteran Kebon Dalem dan murid saat itu masih sedikit. Dengan penuh semangat dan pengabdian kedua imam muda itu memimpin dan mengajar sekolah YU TE. Mereka juga memikirkan bagaimana mendirikan gedung sekolah serta sarana dan prasarana yang memenuhi syarat.
Pastor Beekman, S.J. telah berhasil membeli sebidang tanah di Kampung Kali yang masih ada penghuninya. Mereka mau pindah asal diberi ganti rugi. Setelah tanah terbeli, biaya untuk membangun gedung belum ada. Namun dengan berbagai usaha dapat dimulai juga pembangunan gedung dengan Sembilan ruangan dengan biaya pinjaman dari bank. Kini gedung tersebut dipergunakan SD Theresiana 02.
Sementara itu Pastor Joseph Ting Shu Yen, Pr. Mendapat tugas baru di Singapura. Tinggallah Pastor Rochus Chang Peng Tu, Pr. Seorang diri memimpin dan mengajar sekolah YU TE. Pada tahun 1957, seiring dengan pembangunan gedung-gedung, pemerintah mengeluarkan peraturan agar anak-anak WNI keturunan Tionghoa disalurkan pendidikannya pada sekolah nasional. Mereka tidak boleh sekolah di sekolah asing. Oleh karena itu Yayasan Bernardus membuka sekolah nasional pada tanggal 1 Januari 1958. Nama yang dipakai adalah Theresiana yang diambil dari Santa Theresia pelindung sekolah. Pada waktu itu Yayasan Bernardus mempunyai dua jenis sekolah yaitu sekolah asing dengan nama YU TE dan sekolah nasional dengan nama Theresiana.
Sesuai dengan keinginan Pastor Beekman, S.J. pendiri sekolah Theresiana agar sekolah menjadi persemaian untuk menabur benih Kerajaan Allah. Maka selain mendirikan gedung untuk kegiatan belajar mengajar, Yayasan Bernardus merasa perlu mendirikan tempat ibadah, di mana anak didik, para guru, karyawan, dan orang tua murid dapat memanfaatkan untuk kegiatan keagamaan. Tahun 1962 sebuah kapel telah siap digunakan. Sebagai akibat G-30 S/PKI, pemerintah melarang sekolah asing berdiri di Indonesia. Akhirnya SD YU TE diubah namanya menjadi SD Theresiana 02.
Berhubung SD Theresiana 1 yang berdomisili di Jl. Gajah Mada 91 mengalami penyusutan, maka sejak tahun pelajaran 1999/2000 SD Theresiana 1 digabung dengan SD Theresiana 02.
SD Theresiana 02 telah mengalami pasang surut. Biji sawi yang ditabur sejak 2 Mei 1950 telah menjadi pohon yang besar dan rindang. SD Theresiana 02 melayani semua golongan dan memperkenalkan Kerajaan Allah kepada manusia yang berkehendak baik.
Bapak/Ibu yang pernah memimpin SD Theresiana 02 dari masa ke masa yaitu :
- G.A. Sitohang
- Yap Kiem Bwee
- M. Susilowati
- Agnes Seruniwati
- Soetrisno Hadi
- Anton Harry Santoso : 2002-2003
- Yustinus Surono : 2003-2007
- Yulita Endarwati : 2007-2009
- Nur Cahyo Agustinus : 2009-2011
- CMM. Sri Rahayu : 2011-2012
- Yustinus Surono : 2012-2018
- Laurensia Vianney Indah Setyowati : 2018 – 2024
- Daniel Yopy Wicaksono : 2024 – Sekarang
